oleh

Begini Alur dan Syaratnya di Vaksin Covid 19

BATOPAR.COM, JAKARTA – Pelaksanaan vaksinasi diawali dengan Kementerian Kesehatan (Kemkes) mengirimkan short message service (SMS) blast secara serentak kepada penerima vaksin Covid-19 mulai 31 Desember 2020 kepada seluruh penerima vaksin Covid-19 yang telah terdaftar pada tahap pertama, yaitu tenaga kesehatan. SMS ini terintegrasi dengan aplikasi Pedulilindungi.id.

Penerima vaksin akan mendapatkan notifikasi melalui SMS Blast dengan ID pengirim PeduliCovid. Di mana penerima vaksin akan melakukan verifikasi, yaitu registrasi ulang untuk status kesehatan sekaligus memilih tempat serta jadwal vaksinasi.

Untuk daerah dengan kendala jaringan internet, proses verifikasi dan registrasi akan dilakukan oleh Satgas Penanganan Covid-19 di kecamatan.

“Registrasi ini sangat penting karena sebagai upaya verifikasi dan menjawab pertanyaan yang akan dilakukan oleh sistem untuk mengonfirmasi domisili, dan skrining sederhana terhadap penyakit penyerta yang diderita,” kata Juru Bicara Vaksin Covid-19 Kemkes, Siti Nadia Tarmizi.

Bagi peserta yang tidak melakukan registrasi ulang akan dilakukan oleh Satgas Penanganan Covid-19. Registrasi ulang calon penerima akan dilakukan dalam beberapa hari mendatang. Kemenkes akan mengumumkan kemudian untuk alur yang lebih detail.

Saat hari pelaksanaan vaksinasi, penerima SMS akan mendatangi fasyankes yang sudah ditentukan. Di fasyankes ini penerima vaksin akan melalui empat alur atau meja layanan, yakni:

1. Meja petugas pendaftaran dan verifikasi.
Di sini petugas memastikan sasaran menunjukkan nomor e-ticket atau KTP untuk dilakukan verifikasi sesuai dengan tanggal pelayanan vaksinasi yang telah ditentukan.

2. Meja petugas kesehatan.
Petugas kesehatan melakukan anamnesa atau pemeriksaan untuk melihat kondisi kesehatan dan mengidentifikasi kondisi penyerta (komorbid) serta melakukan pemeriksaan fisik sederhana. Pemeriksaan meliputi suhu tubuh dan tekanan darah.

Vaksinasi Covid-19 tidak diberikan pada sasaran yang memiliki riwayat konfirmasi Covid-19, wanita hamil, menyusui, usia di bawah 18 tahun dan beberapa kondisi komorbid.

3. Meja vaksinator.
Petugas memberikan vaksinasi secara intra muskular sesuai prinsip penyuntikan aman. Selesai penyuntikan, petugas meminta dan mengarahkan sasaran ke meja 4 dan menunggu selama 30 menit.

4. Meja petugas pencatatan.
Petugas menerima memo yang diberikan oleh petugas meja 3. Petugas memasukkan hasil vaksinasi yaitu jenis vaksin dan nomor batch vaksin yang diterima masing-masing sasaran ke dalam aplikasi Pcare Vaksinasi. Petugas memberikan kartu vaksinasi baik manual atau elektronik, serta penanda kepada sasaran yang telah mendapat vaksinasi. Kartu tersebut ditandatangani dan diberi stempel lalu diberikan kepada sasaran sebagai bukti bahwa sasaran telah diberikan vaksinasi.

Petugas mempersilakan penerima vaksinasi untuk menunggu selama 30 menit di ruang observasi dan diberikan penyuluhan tentang pencegahan Covid-19 melalui 3M dan vaksinasi.

Diketahui, terdapat sekitar 16 kondisi kesehatan yang ditanyakan sebelum menjalani proses vaksinasi, di antaranya:

  • Riwayat gagal jantung atau penyakit jantung koroner.
  • Penyakit autoimun sistemik, seperti systemic lupus erythematosus (SLE) atau lupus, sjogren, vaskulitis, dan autoimun lainnya.
  • Penyakit ginjal khususnya penyakit ginjal kronis dan sedang menjalani hemodialisis, dialisis peritoneal, transplantasi ginjal, sindroma nefrotik dengan kortikosteroid.
  • Penderita reumatik autoimun atau rhematoid arthritis
  • Penyakit saluran pencernaan kronis
  • Hipertiroid atau hipotiroid karena autoimun.
  • Penderita kanker
  • Kelainan darah
  • Imunokompromais atau defisiensi imun
  • Penerima produk darah atau transfusi.
  • Penderita diabetes melitus
  • Pengidap HIV
  • Penderita penyakit paru khususnya asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), dan tuberkulosis (TBC).

Jika sasaran layak divaksinasi maka ia akan menuntaskan prosesnya. Sebaliknya jika tidak layak maka vaksinasi ditunda atau bahkan tidak diberikan sama sekali.

Jika vaksinasi harus ditunda hari itu, maka sasaran akan mendapat notifikasi ulang melalui sms blast atau melalui aplikasi PeduliLindungi untuk melakukan registrasi ulang dan menentukan jadwal pengganti pelaksanaan vaksinasi.

Ketika pada saat screening dideteksi ada penyakit tidak menular atau dicurigai adanya infeksi Covid-19 maka pasien dirujuk ke Poli Umum untuk mendapat pemeriksaan lebih lanjut. Jadi, belum tentu sasaran yang datang ke fasyankes mendapatkan vaksinasi saat itu.

Jika sasaran yang dinyatakan sehat, maka petugas memberikan penjelasan singkat tentang vaksin yang akan diberikan, manfaat dan reaksi simpang atau kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) yang mungkin akan
terjadi dan upaya penanganannya.

Distribusi
Untuk pelaksanaan vaksinasi, 3 juta dosis vaksin Sinovac sudah mulai didistribusikan oleh Bio Farma secara perdana pada Minggu (3/1/2021), ke 14 provinsi dan seterusnya ke 34 provinsi. Distribusi dilakukan lebih cepat dengan harapan vaksinasi bisa dilaksanakan serentak di 34 provinsi. Program vaksinasi sendiri menurut rencana pemerintah dilaksanakan pada pekan kedua atau ketiga Januari 2021.

Menkes mengatakan vaksinasi mulai tanggal 13 Januari di mana Presiden Jokowi adalah orang pertama yang disuntik vaksin.

Apalagi, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah mengeluarkan izin penggunaan dalam kondisi darurat atau emergency use authorization (EUA) vaksin Sinovac pada Senin (11/1/2021). Izin ini sangat penting karena memastikan keamanan, mutu dan khasiat atau efikasi vaksin sebelum digunakan.

Secara keamanan dan mutu BPOM sudah mendapatkan data-data dari uji praklinis, uji klinis fase 1 dan fase 2 dari negara asal vaksin.

Berdasarkan Petunjuk Teknis (Juknis) Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19 yang dikeluarkan Kemkes pada 2 Januari 2021, vaksinasi dilaksanakan dua periode. Periode pertama dimulai Januari-April 2021, dan periode kedua pada April 2021 sampai Maret 2022 atau selama 15 bulan.

Komentar

News Feed