oleh

Ketua DPR AS: Presiden Trump Ancaman Nyata Bagi Amerika

BATOPAR.COM, AMERIKA SERIKAT – DPR Amerika Serikat mengesahkan pemakzulan Presiden Donald Trump dengan suara 232 berbanding 197 Rabu (13/1/2021) malam waktu setempat atau Kamis WIB, atas tuduhan telah menggerakkan aksi kerusuhan di Gedung Capitol 6 Januari lalu.

Peristiwa tersebut bukan kasus kerusuhan atau aksi onar biasa, karena terjadi di Gedung Capitol untuk menggagalkan sidang Kongres yang akan menetapkan Joe Biden sebagai pemenang pemilihan presiden.

Kemudian, seorang polisi juga dibunuh dalam aksi di gedung legislatur yang sakral itu, sehingga total ada lima korban tewas.

Baca Juga: Wapres AS Mike Pence Tolak Ajukan Amandemen ke-25 untuk Lengserkan Trump

Karena itu, Trump dianggap melakukan insurrection atau pemberontakan dengan kekerasan dan menyerang langsung sendi-sendi demokrasi Amerika, negara yang selalu mengklaim sebagai kiblatnya demokrasi global.

Selain itu, Trump berulangkali menuduh tanpa bukit kuat bahwa telah terjadi kecurangan meluas dalam pemilihan presiden dan menolak mengakui kemenangan Biden sehingga menghalangi transisi kekuasaan yang normal.

“Presiden Trump membahayakan keamanan Amerika Serikat dan lembaga-lembaga pemerintahan, mengancam integritas sistem demokrasi, menghalang-halangi proses peralihan kekuasaan yang damai, dan membahayakan lembaga mitra sejajar pemerintah,” bunyi pernyataan DPR dalam keputusan pemakzulan.

Sidang dipimpin oleh Ketua DPR Nancy Pelosi, petinggi Partai Demokrat, dan 10 anggota dari Partai Republik ikut mendukung pemakzulan. Partau Republik adalah kendaraaan politik Trump untuk memenangkan jabatan presiden.

“Kita tahu bahwa Presiden Amerika Serikat ini menggerakkan kerusuhan, pemberontakan bersenjata melawan negara kita,” kata Pelosi.

“Ia harus pergi. Ia merupakan ancaman nyata bagi negara yang kita cintai,” tegasnya.

Liz Cheney, anggota dari Partai Republik, membuat pernyataan yang lebih keras lagi, bahwa Trump “mengundang para perusuh, mengumpulkan mereka, dan menyalakan sumbu.”

“Tidak pernah terjadi sebelumnya ada pengkhianatan yang lebih besar oleh Presiden Amerika Serikat terhadap jabatan dan sumpahnya pada Konstitusi,” kata Cheney.

Baca Juga: Para Pimpinan Militer AS Kecam Penyerbuan ke Gedung Parlemen Capitol

Ketua Fraksi Partai Republik Kevin McCarthy menolak pemakzulan meskipun sependapat bahwa Trump adalah pihak yang bertanggung jawab.

“Saya yakin pemakzulan yang dipaksakan dalam waktu sesingkat ini adalah sebuah kesalahan. Belum ada penyelidikan yang sudah dituntaskan dan belum ada sidang soal ini,” kata McCarthy.

Perpecahan di kubu Republik berbeda dengan situasi 2019 ketika Trump dimakzulkan pertama kali. Saat itu, semua anggota Fraksi Republik kompak menolak meskipun akhirnya kalah jumlah dengan Fraksi Demokrat.

Selain Cheney, pendukung pemakzulan Fraksi Republik Rabu malam termasuk John Katko (New York), Adam Kinzinger (Illinois), Fred Upton (Michigan), Jaime Herrera Beutler (Washington), Dan Newhouse (Washington), Peter Meijer (Michigan), Tom Rice (South Carolina), Anthony Gonzalez (Ohio), dan David Valadao (California).

Rice, dari negara bagian South Carolina yang didominasi Partai Republik, sebelumnya memberi sinyal tidak akan mendukung pemakzulan, tetapi kemudian berbalik arah setelah mengamati sikap presiden pasca-kerusuhan.

“Presiden tidak meminta negeri ini untuk tetap tenang. Dia tidak menemui mereka yang terluka dan berduka. Dia tidak mengucapkan bela sungkawa. Kemarin, dalam jumpa pers di perbatasan, dia mengatakan bahwa komentar-komentarnya selama ini sepenuhnya tepat,” kata Rice.

“Saya sudah mendukung presiden ini dalam suka dan duka selama empat tahun. Saya berkampanye untuknya dan memberikan suara padanya dua kali. Namun, kesalahan nyata saat ini tidak bisa dimaafkan lagi,” imbuhnya.

Ketua Fraksi Demokrat Steny Hoyer mengatakan hasil pemakzulan ini akan dikirim ke Senat secepatnya.

Namun, Ketua Senat Mitch McConnell menegaskan Senat tidak akan bersidang sebelum Joe Biden dilantik 20 Januari nanti. Artinya, Senat baru mulai bersidang setelah Trump pensiun.

Komentar

News Feed