oleh

PM Israel, Benjamin Netanyahu Tuduh Kecurangan Pemilu dan Tuding Musuhnya Bermuka Dua

BATOPAR.COM, INTERNASIONAL – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mengatakan pada Minggu, koalisi Israel yang baru terbentuk yang berencana melengserkannya adalah hasil “kecurangan pemilu terbesar” dalam sejarah demokrasi.

Dia melontarkan tuduhan ini ketika kepala keamanan domestik Israel memperingatkan secara terbuka terkait potensi kekerasan politik. Netanyahu menitikberatkan tuduhannya pada janji kampanye yang dilanggar tokoh yang akan menggantikannya sebagai perdana menteri, nasionalis Naftali Bennett.

Bennet telah berjanji tidak akan bekerja sama dengan sayap kiri, tengah, dan partai Arab, tapi pada Rabu mengumumkan bersama pemimpin oposisi Yair Lapid mereka telah membentuk koalisi pemerintah dengan faksi dari seluruh spektrum politik.

Berdasarkan kesepakatan rotasi, Bennet akan menjabat sebagai perdana menteri pertama, disusul Lapid.

Belum ada tanggal yang telah ditetapkan untuk pemiluhan di parlemen untuk menyetujui pemerintahan baru, menyusul pemilihan 23 Maret, tapi diperkirakan pengambilan sumpah akan dilaksanakan pada 14 Juni.

“Kita menyaksikan kecurangan pemilu terbesar dalam sejarah negara, menurut pendapat saya dalam sejarah demokrasi mana pun,” jelas Netanyahu, dikutip dari Al Arabiya, Senin (7/6/2021).

“Itulah mengapa orang merasa ditipu dan mereka merespons, mereka tidak boleh diam,” katanya dalam sambutannya, yang disiarkan langsung dan merujuk secara tidak langsung pada janji kampanye Bennett untuk tidak bekerja sama dengan Lapid dan lainnya.

Netanyahu, pemimpin Israel yang menjabat paling lama, berkuasa sejak 2009, dan masa jabatannya dinodai kasus Korupsi yang sedang masa persidangan, di mana dia telah membantah melakukan kejahatan tersebut.

Komentar

News Feed