BATOPAR.COM, AMERIKA SERIKAT – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dituduh telah menjuluki para prajurit Amerika yang gugur di medan perang sebagai “pecundang” dan “lembek” (sucker — istilah slang dengan banyak arti lain), dalam artikel yang diterbitkan oleh majalah The Atlantic Kamis lalu.

Ini tuduhan yang sangat serius dan bisa berdampak besar pada sentimen pemilih — jika benar adanya.

Di pihak lain, tuduhan seperti ini — yang hanya mengutip sumber-sumber anonim — seharusnya gampang dipatahkan dan bisa menjadi bumerang bagi media yang bersangkutan.

Namun, rekam jejak sang presiden membuat situasi lebih rumit dari biasanya.

Memang, Trump sendiri langsung membantah pada kesempatan pertama.

“Saya bersedia bersumpah demi apa saja bahwa saya tidak pernah mengatakan itu terhadap para prajurit kita yang gugur. Tidak ada orang yang menghormati mereka melebihi saya. Itu adalah tuduhan yang mengerikan,” ujarnya di Latrobe, Pennsylvania, hanya beberapa jam setelah berita itu terbit.

Sebelumnya dia juga bercuit di Twitter: “Saya tidak pernah menyebut para prajurit hebat kita yang gugur dengan kata lain kecuali PAHLAWAN. Ini lagi-lagi berita palsu yang direkayasa dan dibuat oleh kelompok orang gagal yang menjijikkan dan iri, dalam upaya hina mereka untuk memengaruhi pemilihan 2020!”

Masalahnya adalah Trump punya riwayat sering meremehkan para veteran perang.

Jeffrey Goldberg, penulis artikel tersebut di The Atlantic, berkeras dengan tulisannya dan menegaskan sumber-sumber yang dia kutip adalah orang-orang dengan posisi tinggi yang tahu peristiwa sebenarnya.

“Saya bertahan dengan berita saya,” ujarnya kepada stasiun televisi berita CNN Jumat waktu setempat.

“Saya punya sejumlah sumber yang mengatakan memang itulah yang terjadi, maka dengan itu saya bertahan.”

Jadi masyarakat dihadapkan pada dilema: Goldberg berkeras beritanya benar. Trump berkeras berita itu salah. Dua pendapat itu tidak mungkin semuanya benar.

Terlepas dari itu, tanpa bermaksud menghakimi, pernyataan Trump bahwa dia tidak pernah merendahkan veteran atau militer secara umum bertentangan dengan fakta yang ada.

McCain
Yang paling diingat masyarakat Amerika adalah perseteruannya dengan almarhum Senator John McCain, yang pernah lima tahun menjadi tawanan perang Vietnam Utara.

Pada 2016 Trump menyebut McCain seperti ini: “Dia bukanlah seorang pahlawan perang. Dia bukan pahlawan perang karena tertangkap. Saya lebih suka orang yang tidak tertangkap.”

Selama menjadi tawanan perang, McCain disiksa sehingga selama sisa hidupnya dia tidak bisa mengangkat kedua tangannya ke atas kepala.

Pada tahun yang sama, Trump juga beradu urat dengan Khizr Khan, yang putranya gugur di medan perang. Khan yang memulai serangan ketika dia diminta berpidato di Konvensi Partai Demokrat dengan menuduh Trump “tidak pernah mengorbankan apa pun dalam hidupnya.”

Setelah kematian prajurit Amerika Sersan La David Johnson dalam konflik di Niger 2017, istri almarhuim yang juga seorang anggota kongres Partai Demokrat asal Florida berkisah bahwa Trump menelepon dia dan mengatakan suaminya “tahu apa risiko pekerjaannya”. Trump membantah pernah mengeluarkan pernyataan seperti itu.

Tahun lalu, Trump menyebut mantan menteri pertahanan James Mattis sebagai “Jenderal yang paling buruk di dunia”, setelah Mattis mundur dari jabatannya.

Ada banyak lagi pernyataan-pernyataan Trump yang merendahkan tokoh militer. Poinnya adalah, Trump bisa dengan enteng mengkritik para veteran atau tawanan perang.

Ini tentu saja BUKAN bukti bahwa berita di The Atlantic itu benar. Namun, ini menunjukkan bahwa konteksnya memang tidak menguntungkan bagi Trump.

Maksudnya kurang lebih seperti ini: jika berita itu ditujukan kepada, ambil contoh, George W. Bush atau Barack Obama, lalu mereka membantahnya, hampir bisa dipastikan bahwa masyarakat Amerika akan lebih percaya kepada presiden karena dua orang itu memang tidak punya riwayat pernyataan atau sikap yang menghina veteran.

Sayangnya, tidak demikian situasi yang dihadapi Trump.

Apa isi berita The Atlantic?
Artikel itu ditulis langsung oleh pemimpin redaksi Jeffrey Goldberg, mengutip sumber-sumber yang menurut dirinya mendengar langsung komentar-komentar Trump.

Judulnya juga langsung menikam: “Trump: Americans Who Died in War Are ‘Losers’ and ‘Suckers’” (Trump: Orang Amerika yang Tewas dalam Perang adalah Para ‘Pecundang’ dan ‘Lembek’).

Latar belakang peristiwa adalah saat presiden berada dalam KTT di Paris dan dijadwalkan berkunjung ke Makam Pahlawan Marinir AS di Aisne-Marne pada 2018. Makam itu menampung para marinir AS yang gugur dalam pertempuran di Hutan Belleau era Perang Dunia I.

“Kenapa saya harus pergi ke pemakaman itu? Isinya cuma para pecundang,” kata Trump seperti dikutip para sumber The Atlantic.

Trump juga enggan berangkat karena kondisi hujan dan angin kencang akan “merusak tatanan rambutnya”.

“Dalam percakapan terpisah di kunjungan yang sama, Trump merujuk pada lebih dari 1.800 marinir yang kehilangan nyawa di Hutan Belleau sebagai orang ‘lembek’ karena akhirnya terbunuh,” tulis The Atlantic.

Amerika dan sekutunya terlibat dalam perang 1918 itu untuk mencegah pasukan Jerman masuk ke Paris.

“Namun, Trump bertanya ke para ajudannya ‘siapa pihak yang benar di perang tersebut?’. Dia juga mengatakan tidak paham kenapa Amerika Serikat harus campur tangan di kubu Sekutu,” tulis The Atlantic.

Menurut majalah tersebut, alasan Trump bahwa dia tidak berkunjung ke makam pahlawan karena cuaca buruk yang mengalangi helikopter dan Paspampres juga tidak bersedia mengawal konvoi mobil ke sana adalah “tidak benar”.

Pemakaman itu terletak sekitar 80 km dari Paris. Para kepala negara lainnya yang hadir dalam KTT, seperti Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Angela Merkel bisa hadir di lokasi makam hari itu meskipun kondisi hujan.

Trump tentu saja tidak berdiam diri diserang The Atlantic.

“Majalah The Atlantic sedang sekarat, seperti sebagian besar majalah lainnya, jadi mereka merekayasa berita agar bisa dianggap relevan,” cuit Presiden.

(Taman Makam Pahlawan Marinir AS di Aisne-Marne, dekat Paris/ AFP)