oleh

Sofyanto Torau: Peranan Partai Nasional Indonesia dan Pendirian Soekarno Muda, Lahirkan Perlawanan Rakyat Luwu di 23 Januari 1946

BATOPAR.COM, PALOPO – Setiap tanggal 23 Januari setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Perlawanan Rakyat Luwu (HPRL) yang berangkat dari peristiwa rakyat Luwu yang berperang melawan penjajah Belanda saat itu.

Dikutip dari Universitas Indonesia Library, sejarah Hari Perlawanan Rakyat Luwu dimulai pada saat dasawarsa pertama abad ke-20, Belanda berkuasa di kerajaan Luwu secara tidak langsung setelah Datu Andi Kambo menandatangani Korte Perklaring dimana berbagai kebijaksanaan kolonial Belanda mulai diterapkan seperti westernisasi melalui pendidikan serta pembangunan prasana dan sarana transportasi yang membawa pengaruh positif bagi rakyat Luwu.

Meski begitu, dilain pihak pemungutan pajak yang dibebankan kepada rakyat Luwu dianggap sangat berat dan pada akhirnya melahirkan kebencian rakyat kepada kolonial Belanda.

Meski demikian, dinamika sosial dalam masyarakat Luwu belum terpengaruh, masih utuh sehingga kewibawaan Datu dan petinggi-petinggi kerajaan lainnya serta penguasa-penguasa pada tingkat bawah tetap berpengaruh besar.

Disaat adanya putra-putra Luwu yang menyelesaikan pendidikannya (timbulnya kelompok terpelajar) ketika itu pula pergerakan kebangsaan telah sampai ke daerah Luwu.

Dimulai dengan Sarikat Islam kemudian berkembang menjadi Partai Sarikat Islam Indonesia (PSII), Muhammadiyah, dan Partai Nasional Indonesia (PNI).

Disamping itu kunjungan para unsur pimpinan dan pengurus partai, baik lokal (Sulawesi Selatan) maupun dari pusat, turut mempercepat penanaman paham kebangsaan dan nasionalisme dikalangan kelompok terpelajar.

Mereka mengerti apa sesungguhnya yang ingin dicapai oleh pergerakan nasional.

Kehadiran Jepang tahun 1942 disaat itu telah membuat banyak rakyat Luwu mengetahui adanya Indonesia dan dengan melalui Jepang yang mempopulerkan nama Indonesia dan bangsa Indonesia, maka tidak lama kemudian rakyat menyadari bahwa dirinya adalah bangsa Indonesia dan mereka merupakan bagian dari bangsa Indonesia.

Namun sebaliknya penderitaan yang dirasakan pada masa penjajahan Jepang akibat tekanan-tekanan ekonomi dan kekejaman Jepang serta dampak dari perang pasifik memberi dorongan untuk memperjuangkan kemerdekaan.

Kepercayaan diri muncul pada diri mereka akibat pemberian latihan-latihan semi militer dan militer dan pemberian kesempatan bekerja.

Ketika Jepang menyatakan menyerah kepada Sekutu tanggal 15 Agustus 1845 disaat itu bangsa Indonesia memanfaatkan waktu yang singkat itu untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945.

Dukungan atas kemerdekaan Indonesia mulai bermunculan. Dua hari setelah kemerdekaan Indonesia tepatnya tanggal 19 Agustus 1945 pemuda Luwu mendirikan suatu organisasi yang diberi nama “Sukarno Muda”, sebagai dukungan atas kemerdekaan Indonesia.

Tidak lama kemudian organisasi tersebut mendapat dukungan dari pemerintah kerajaan Luwu dan kemudian oleh pemerintah kerajaan Luwu menyatakan berdiri dibelakang Republik Indonesia pada awal bulan Oktober 1945.

Menjelang kedatangan pasukan Sekutu ke daerah Luwu telah muncul dua kubu dalam masyarakat Luwu, yaitu kubu yang menginginkan kembalinya Belanda berkuasa (jumlahnya tidak banyak) dan kubu yang mendukung kemerdekaan Indonesia dan akan berjuang mempertahankannya.

Konflik tidak dapat terhindar dari kedua kubu tersebut, yang ada hanya kawan dan lawan, dan tidak jarang terjadi berakhir dengan pembunuhan.

Pasukan Sekutu dalam hal ini diwakili oleh tentara Australia tidak dapat berbuat banyak, melainkan hanya memberi peluang kepada NICA dan KNIL untuk melalukan tindakan-tindakan yang merugikan rakyat Luwu.

Dengan alasan mencari senjata-senjata Jepang yang dirampas pemuda Luwu, KNIL melakukan patroli ke berbagai tempat dan hal itu akan memancing kemarahan pemuda-pemuda Luwu.

Suatu ketika KNIL memasuki kampung Bua dan mereka melakukan penggeledahan di rumah-rumah rakyat namun tidak satupun senjata yang berhasil ditemukan.

Kemudian menuju ke kediaman Opu Gawe dan mengancam dengan kasar bahwa dalam waktu tiga hari senjata yang dirampas tidak diserahkan, maka rumah Opu Gawe akan dibakar dan daerah Bua akan dihancurkan.

Dari kediaman Opu Gawe tentara KNIL menuju ke Masjid dengan tujuan yang sama. Beberapa orang dalam Masjid sempat ditanya, antara lain seorang Deja (penjaga Masjid) bernama Tomanjawani.

Keterangan dari Tomanjawani tidak memuaskan lalu dengan kekesalannya mereka mengobrak-abrik isi masjid termasuk merobek-robek dan menginjak-nginjak kitab suci Alquran.

Tindakan tentara KNIL itu sangat melukai hati rakyat Luwu, mengingat bahwa Masjid dan Alquran serta Opu Sawe merupakan dua simbol yang sangat berakar dihati rakyat Luwu.

Keesokan harinya tanggal 21 Januari 1946 pemerintah kerajaan Luwu dan pemuda akhirnya mengeluarkan ultimatum bahwa “dalam tempo 2X24 jam pihak Belanda harus segera memerintahkan kepada pengawas-pengawas KNIL yang sedang berkeliaran melakukan patroli di dalam dan di luar kota Palopo, supaya segera masuk ke dalam tangsi dengan senjatanya. Jika sampai batas waktu itu tidak diindahkan maka ketertiban dan keamanan tidak bisa dipertanggung jawabkan lagi”.

Sampai pada batas ultimatum tersebut, pihak KNIL tidak menarik pasukannya masuk ke dalam tangsi. Maka pada tanggal 23 Januari 1946 rakyat LUWU melakukan serangan ke tangsi KNIL sebagai bukti satunya kata dengan perbuatan.

Serangan itu mendapat dukungan dari rakyat Luwu sebagai perwujudan antara pemerintah (Datu) Luwu dengan rakyat.

Saat ini, setiap Tanggal 23 Januari diperingati Momentum yang sangat Bersejarah bagi Rakyat Luwu, yang merupakan Momentum Perlawanan Rakyat Luwu dalam melawan Penjajah dan Sebagai Wujud Mendukung Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang telah di Proklamirkan Oleh Bung Karno dan Bung Hatta di Jakarta.

Foto: Sofyanto Torau Bersama Datu Luwu

Komentar

News Feed