Batopar.com,– Anggota DPRD Provinsi NTT Boni Burhanus bersama Remigius Nalas, Anggota DPRD Kabupaten Manggarai dari Partai Gerindra, menyapa ratusan warga Gendang Ringkas, Desa Perak, Kecamatan Cibal, Rabu, 1 Juli 2026.
Kedua politisi Gerindra itu disambut secara adat melalui ritus tuak kapu di rumah Gendang Ringkas. Setelah itu, keduanya berdiskusi singkat dengan para pemangku adat dan warga gendang.
Boni Burhanus dan Remigius Nalas tampak menyimak pemaparan perwakilan Suku Bikar, Racang, dan Nggeong Curu di Gendang Ringkas.
Tak hanya hadir dalam kapasitas reses, Boni Burhanus juga disambut kembali dalam ritus kapu sebagai Anak Bara Wua Tuka atau warga Gendang Ringkas.
Dengan status adat itu, Boni memiliki kewajiban adat sebagaimana Pang Olo Ngaung Musi Gendang Ringkas untuk ikut berkontribusi menyukseskan Penti Weki Peso Beo Gendang Ringkas.
Di hadapan para tetua adat dan warga, Boni mengapresiasi peran aktif warga dalam melestarikan adat dan budaya Manggarai.
“Penti Weki Peso Beo memiliki nilai sakral jika dilaksanakan dengan baik dan benar. Artinya, tidak hanya menjadi rutinitas semata. Penti_adalah warisan leluhur (Mbate Dise Ame, Serong dise Empo). Karena itu, kita sebagai generasi muda bertanggung jawab penuh menjaga kesakralannya, serta nilai-nilai magis dalam setiap ritus dan ritual,” lanjutnya.
Ia juga berterima kasih karena, sebagai Anak Bara Wua Tuka Gendang Ringkas di era modern, dirinya masih diberi ruang untuk ambil bagian dan membersamai setiap ritus budaya Manggarai.
Sementara itu, Tokoh Masyarakat Ringkas sekaligus Ketua Panitia Penti, Paulus Pantur, menyampaikan terima kasih kepada Boni Burhanus dan Remigius Nalas yang hadir dalam rangkaian Penti Weki Peso Beo Gendang Ringkas yang dibuka dengan ritus Cepa pada hari yang sama.
Menurut Paulus, keterlibatan keduanya menjadi harapan warga karena sejalan dengan moto Penti tahun ini: Bersatu dalam Syukur, Erat dalam Persaudaraan.
“Terlepas dari statusnya sebagai anggota DPRD, Pak Boni hadir juga sebagai Ase Kae, Ata Ringkas. Sedangkan Pak Remi Nalas hadir sebagai _Anak Wina (Woe)_,” jelas Paulus.
Paulus menjelaskan, ritus Cepa merupakan ungkapan syukur kepada wura gu ceki atau leluhur yang menempati lingko-lingko di gendang, atas berkah hasil panen yang diterima warga.
Ritus ini juga merupakan permohonan agar para wura dan ceki melindungi warga serta seluruh tanaman, ternak, dan sumber penghidupan dari berbagai penyakit yang dapat mengurangi hasil panen.
Ritus Cepa dilaksanakan sebelum rangkaian ritus Penti lainnya, mulai dari Barong Wae, Adak Tei Hang, Libur Kilo, hingga acara puncak Tudak Penti. (*)

